Cita-Citamu Itu Sebuah Keniscayaan

Impian yang seperti apakah yang tidak bisa diwujudkan?
Keinginan yang seperti apakah yang tidak bisa dituruti?
Jika kau kira impianmu terlampau muluk untuk diwujudkan maka terlebih dulu, duduklah dengan santai dan lihatlah film ini dengan hatimu.

DANGAL (2016)
http://bit.ly/2u6y4iP (klik link untuk memutar film)

Saat seorang pegulat tingkat nasional,  Mahavir Singh Poghat, terpaksa berhenti, mengalahkan panggilan jiwanya demi keluarga yang dicintainya, mengubur dalam-dalam cita-citanya untuk mempersembahkan medali emas bagi negaranya. Apa yang dia lakukan? Tidak ada. Ia berdiam dan menarik diri dari kehidupan. Membiarkan jalan hidupnya berjalan dengan datar. Tubuh atlitnya perlahan berubah menjadi sosok bapak yang gendut karena jarang melakukan aktivitas fisik. 4 putrinya tidak mungkin bisa mewujudkan cita-citanya. Hidupnya datar dan membosankan.

Hidup Mahavir berubah, keinginan yang sempat ia kubur dalam-dalam tiba-tiba muncul saat mengetahui bahwa putri pertama dan keduanya telah menghajar dua orang anak laki-laki yang mengejek mereka. Alih-alih marah, Mahavir justru seolah mampu melihat cahaya yang akan mewujudkan cita-citanya berpendar dari wajah kedua putrinya itu. Sejak kejadian itu Mahavir berjuang keras untuk mewujudkannya.

Adat India yang kuat mengatur bahwa setiap anak perempuan wajib didik dengan kewajiban rumah tangga dan segala pernak-perniknya. Dinikahkan diusia muda, dan menghabiskan hidup untuk merawat anak-anak dan suaminya, begitu seterusnya dan seterusnya hingga generasi ke generasi. Dan Mahavir Singh mendobrak adat itu.
Mahavir memotong celana kedua putrinya untuk mempermudah mereka dalam berlari, sebuah kewajiban baru bagi Geeta dan Babita, latihan fisik mereka. Mahavir juga mencukur rambut panjang anak-anaknya hingga menyerupai anak laki-laki karena rambut panjang menghambat keduanya untuk berlatih gulat di arena yang berpasir. Mahavir menguatkan diri, meski hatinya menangis melihat kedua putrinya berlingan air mata, tak kuasa menolak keinginan ayah mereka. Ejekan, cemoohan dilontarkan olah warga desa, namun Mahavir tidak goyah, cita-citanya terlalu besar jika harus dihentikan hanya karena ocehan orang-orang yang bahkan tidak tahu alasan dibalik apa yang ia lakukan selama ini.

Sebuah perbincangan dengan seorang teman yang terpaksa harus menikah di usia muda, membuka pikiran Geeta dan Babita yang dulunya menentang ayah mereka menjadi sangat mendukungnya. Geeta dan Babita percaya bahwa apa yang dilakukan Ayah mereka adalah sebuah bentuk cinta, cinta kepada putri-putrinya, cinta hingga ia tidak rela jika kedua putrinya bernasib sama dengan perempuan-perempuan sebaya mereka. Geeta dan Babita menemukan alasan mereka untuk tidak menentang Ayah mereka. Cinta. Mereka berdua sepakat untuk mewujudkan cita-cita ayah mereka. Mendapatkan medali Emas Internasional untuk negara mereka, India.

Latihan demi latihan dilakukan, Geeta dan Babita menjelma sebagai pegulat perempuan cilik yang bahkan dapat mengalahkan sepupu laki-laki mereka. Meski mengalami penolakan pada laga perdananya, Geeta mampu membuktikan bahwa ia juga dapat mengalahkan seorang pegulat laki-laki yang dianggap memiliki postur dan kemampuan baik. Geeta menjadi pegulat pertama dari desanya yang mampu menembus batas.

Sikap warga desa berubah. Satu-persatu gelar diraih oleh Geeta. Jika dulu mereka menganggap Mahavir dan kedua putrinya itu gila, kini mereka melambaikan tangan, menyerukan nama Geeta dan memikulnya keliling kampung. Memasang banner Geeta yang dulu sering mereka tertawakan. Lihatlah. Tangisan Mahavir dan kedua putrinya mulai berubah menjadi sorak sorai kemenangan. Apalagi yang bisa merubah semua itu jika bukan tekad yang kuat, tujuan yang pasti dan semangat pantang menyerah?

Hingga Geeta berhasi masuk ke Akademi Olahraga Nasional India, mempersiapkan diri untuk kejuaraan international, meraih emas seperti apa yang dicita-citakan ayahnya.

Namun apa yang Geeta dapatkan di Akademi tidak seperti apa yang diberikan ayahnya. Pelatihnya yang memiliki standart rendah juga memberikan pelatihan yang sekedarnya. Tiga medali setiap cabang, tidak peduli emas, perak ataupun perunggu. Medali saja.

Dibawah latihan yang sekedarnya, potensi Geeta merosot tajam. Ia bahkan berdebat dengan Mahavir dan Babita, mempermasalahkan tehnik dan latihan yang ia anggap lebih baik yang ia dapatkan selama belajar di Akademi. Geeta melupakan jalan terjal yang pernah ia lalui untuk bisa sampai di Akademi itu. Geeta mulai kehilangan pegangan, terlalu percaya pada kemampuannya hingga meremehkan ayahnya yang selama ini telah membimbingnya hingga bisa berhasil sejauh ini.

Kekalahan demi kekalahan diterima Geeta dengan pahit, sedangkan adiknya Babita mendulang kemenangan demi kemenangan dalam bimbingan ayahnya, hingga berhasil menyusul kakaknya di Akademi.

Dari Babita, Geeta menyadari bahwa Ayahnya menaruh harapan yang sangat besar padanya. Rasa baktinya sebagai seorang anak pada Ayahnya membawanya kembali kepada Mahavir.

Dalam beberapa minggu menjelang kejuaraan Commonwealth, Geeta berlatih kembali dengan supervisi dari ayahnya secara diam-diam.

Namun Pelatih mengetahui jika Geeta berlatih dengan ayahnya, dan membujuk komite Akademi untuk mengurung Geeta, hingga tidak dapat lagi bertemu dengan ayahnya. Namun demikan Mahavir tidak tinggal diam. Ia melihat video rekaman pertandingan Geeta dan menganalisa cara permainan, dan kelemahan Geeta dan lawan-lawannya. Melalui sambungan telepon, kegiatan Mahavir dalam mendidik putrinya dapat dilaksanakan. Segala upaya dilakukan Mahavir agar dia dapat memastikan putrinya mendpatkan bimbingan yang tepat, mempersiapkan Geeta menjadi juara dan pertandingan kali ini.

Kejuaraan dimulai. Geeta mulai meninggalkan jejak kelam pertandingan masa lalu yang mendulang kekalahan. Ia gugup namun optimis dan percaya bahwa Ayahnya akan selalu ada untuk mendukungnya. Geeta berhasil mendulang kemenangan, babak demi babak. Dibalik itu, pelatih yang merasa tersaingi oleh mahavir melakukan perbuatan licik. Ia mengunci Mahavir di dalam gudang.

Babak Final melawan musuh bebuyutannya, Geeta tidak menemukan Mahavir dikursi yang biasa ditempatinya, padahal saat itulah ia benar-benar membutuhkan ayahnya. Meski Tidak bisa mendengar arahan Ayahnya, Geeta tak jua mendengarkan pelatihnya. Ia bertanding sesuai nalurinya.

Geeta hampir putus asa saat pada ronde ketiga poinnya tertinggal jauh. Ia berharap bisa mendengar teriakan ayahnya yang akan membantunya dalam menghadapi lawannya. Namun sia-sia, ayahnya tak juga kelihatan.

Ingatan Geeta berkelana ke masa lalu, saat ayahnya mengajarinya berenang, terngiang jelas ditelinganya, bahwa tidak selamanya Ayahnya akan ada disampingnya untuk selalu membantu, ada saatnya ia harus bisa menolong dirinya sendiri. Geeta yang mulai lemah kembali bangkit. Ia benar-benar mengingat nasihat yang dikatakan ayahnya. “Seseorang yang menang dalam urutan kedua akan cepat dilupakan, tapi yang menjadi juaranya akan terus dikenang. Cara yang dia gunakan akan diingat dan diajarkan kepada generasi berikutnya. Kemenangan Geeta bukan hanya tanda bahwa cita-citanya telah terwujud, kemenangan Geeta adalah kemenangan semua anak permpuan lain yang telah dirampas haknya untuk mewujudkan cita-citanya.”

Dalam detik-detik terakhir babak ketiga Geeta melakukan tehnik yang sangat jarang dilakukan oleh pegulat pada masa itu, ia mengambil resiko dengan melakukan sesuatu yang bahkan belum pernah ia coba sebelumnya. Bantingan melayang, dengan poin 5 yang akhirnya membawa Geeta kepada medali emasnya.

Mahavir yang terkunci di dalam gudang, yang hanya mampu berdoa akhirnya berlinangan air mata saat lagu kebangsaan India berkumandang. Seorang petugas kebersihan yang datang membuka kunci untuk mengambil alat, dan membebaskan Mahavir.

Akhirnya… akhirnya cita-cita Mahavir Singh Poghat tercapai. Apa yang tidak mungkin didunia ini? Apa yang tidak bisa dicapai di dunia ini? Apakah seorang gadis desa tidak bisa menjadi pegulat? Bukankah Mahavir sudah membuktikannya? Apalagi dengan cita-cita dan impianmu. Dengan tekad yang kuat dan semangat pantang menyerah engkau juga dapat mewujudkan apapun cita-citamu.

Seribu jalan ke roma. Saat kau yakin bahwa cita-citamu itu luhur, bertujuan terpuji, entah bagi dirimu sendiri, keluarga ataupun lingkungan sekitarmu, asalkan itu baik, maka jalan kebaikan pula yang akan menyertainya. Karena bukan hanya kau yang berusaha mewujudkannya, Tuhan akan membantumu dengan jalan-Nya yang luar biasa.

Angkat kepala dan kepalkan tanganmu. Hapus rasa takut dan keraguan dalam hatimu. Setiap permasalahan akan menemukan pemecahannya, bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Bangkit dan berjuanglah.

foto by: Showbiz liputan6



Komentar